Findy Alfiansyah Penulis
HARIAN EXPRESS, TANGERANG SELATAN—Kepanikan luar biasa melanda kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Tangerang Selatan setelah seekor King Kobra sepanjang empat meter ditemukan berada di area kerja karyawan, Rabu (13/5/2026) sore.
Seekor ular jenis King Kobra sepanjang empat meter mengejutkan karyawan di kantor Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Reptil berbisa tersebut masuk melalui area lobi utama sebelum akhirnya bersembunyi di bawah furnitur, memicu kepanikan massal di lokasi kejadian.
Saksi mata menyebutkan bahwa ular berukuran besar itu bergerak sangat cepat saat melewati pintu lobi yang terbuka. Petugas keamanan gedung langsung menutup akses area tersebut guna mencegah ular berpindah ke ruangan lain yang lebih padat aktivitas.
Pihak pengelola gedung segera menghubungi tim Pemadam Kebakaran (Damkar) Tangerang Selatan untuk meminta bantuan evakuasi darurat. Laporan tersebut direspons cepat dengan pengerahan unit penyelamatan yang memiliki keahlian khusus menangani hewan liar berbisa.
Tim penyelamat tiba di lokasi dengan membawa peralatan standar keamanan seperti tongkat penjepit dan helm pelindung. Mereka segera melakukan pemetaan posisi ular yang dilaporkan terlihat terakhir kali di sudut ruangan lobi.
Petugas menyisir setiap celah di balik meja dan kursi menggunakan kamera pengawas portable untuk memastikan posisi kepala ular secara akurat. Kehati-hatian tingkat tinggi diterapkan karena sifat King Kobra yang dikenal sangat agresif dan memiliki jangkauan serangan yang mematikan.
Setelah melakukan pencarian selama beberapa menit, petugas akhirnya menemukan ular tersebut melingkar di balik sebuah lemari arsip. Tim Damkar harus menggeser perlahan benda-benda di sekitar agar tidak memicu reaksi defensif yang berbahaya dari reptil tersebut.
“Kami harus memastikan keamanan personel terlebih dahulu sebelum melakukan kontak langsung dengan ular berukuran empat meter ini. Posisi ular yang terjepit di antara perabotan cukup menyulitkan manuver tim di lapangan,” ujar salah satu personel penyelamat di lokasi.
Ular tersebut sempat mencoba menyerang petugas saat ujung tongkat penjepit akan dikaitkan ke bagian lehernya. Namun, berkat ketangkasan personel di lapangan, ular itu akhirnya berhasil dikendalikan sepenuhnya dalam waktu kurang dari tiga puluh menit.
Panjang ular yang mencapai empat meter menjadikannya salah satu temuan satwa liar terbesar di kawasan perkantoran tersebut. Berat badan ular yang cukup besar memerlukan tenaga ekstra dari dua orang petugas untuk mengangkatnya ke dalam boks penyimpanan khusus.
Pakar lingkungan menduga ular ini berasal dari area hutan kota atau lahan kosong yang masih asri di sekitar kompleks perkantoran BRIN. Curah hujan yang tinggi belakangan ini kemungkinan besar merusak sarang alami ular sehingga mereka mencari tempat perlindungan baru yang lebih kering.
Manajemen kantor BRIN mengimbau seluruh staf untuk tetap waspada dan tidak menaruh barang-barang secara menumpuk di dalam ruangan kerja. Mereka juga berencana memasang jaring pengaman tambahan pada celah-celah pintu masuk gedung sebagai langkah preventif di masa depan.
Petugas Damkar menyarankan agar masyarakat tidak melakukan tindakan gegabah jika menemui ular jenis apapun di lingkungan pemukiman. Upaya penangkapan mandiri tanpa alat pelindung diri sangat tidak disarankan karena risiko keselamatan yang sangat tinggi bagi warga sipil.
Kini, ular King Kobra tersebut telah dibawa ke markas pusat Damkar untuk dilakukan pengecekan kondisi kesehatannya oleh ahli medis hewan. Pihak Damkar nantinya akan berkoordinasi dengan komunitas konservasi untuk menentukan lokasi pelepasan yang jauh dari jangkauan manusia.
Proses evakuasi ini diakhiri dengan sterilisasi area lobi untuk memastikan tidak ada anak ular atau gangguan hewan lain yang tertinggal di lokasi. Karyawan BRIN kini sudah dapat kembali beraktivitas secara normal setelah area kerja dinyatakan aman sepenuhnya oleh otoritas terkait.
Kejadian ini menjadi pengingat pentingnya menjaga kebersihan lingkungan di area perkantoran yang berdekatan dengan habitat alami satwa. Pastikan untuk selalu mengikuti perkembangan informasi terkini mengenai protokol keamanan lingkungan melalui saluran komunikasi resmi agar terhindar dari bahaya serupa.

