Sastria Danol Penulis | Ipnu Subroto Editor
HARIANEXPRESS, TANGSEL — Sebanyak 879 balita di Kota Tangerang Selatan teridentifikasi mengalami stunting merujuk pada hasil penimbangan dan pengukuran yang dilakukan pada periode Agustus 2026, Kamis (17/9/2026).
Jumlah tersebut menunjukkan adanya penurunan apabila dibandingkan dengan data periode yang sama pada tahun sebelumnya yang mencapai 917 anak.
Dinas Kesehatan Kota Tangerang Selatan mencatat tingkat prevalensi stunting berhasil ditekan dari 0,79 persen pada tahun lalu menjadi 0,75 persen pada pengukuran Agustus 2026.
Wilayah Kecamatan Setu menduduki posisi pertama sebagai daerah dengan persentase stunting paling tinggi di antara tujuh kecamatan yang ada di Kota Tangerang Selatan.
Prevalensi stunting di kecamatan tersebut menyentuh angka 1,57 persen dengan total sebanyak 119 balita yang terdampak kondisi tersebut.
Pemerintah Kota Tangerang Selatan langsung merespons situasi ini dengan menginstruksikan Puskesmas dan tim pendamping keluarga agar melaksanakan penelusuran sampai ke tingkat rumah tangga.
Fokus penanganan diarahkan pada pencarian faktor pemicu utama seperti riwayat penyakit penyerta, kondisi sanitasi, pola asuh, serta asupan gizi balita.
Berbagai langkah intervensi gizi spesifik seperti distribusi makanan tambahan bernutrisi tinggi serta penyuluhan kesehatan bagi ibu hamil terus dioptimalkan oleh pemerintah daerah.
Seluruh instansi terkait juga memperkuat kerja sama lintas sektor guna merealisasikan target penurunan angka stunting secara merata di wilayah Kota Tangerang Selatan.








