HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Alhamdulillah, segala puji bagi Allah Swt. yang masih melimpahkan rahmat dan kenikmatan-Nya kepada kita, sehingga kita kembali disapa oleh kesejukan Embun Pagi. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada uswah hasanah kita, Nabi Muhammad saw.
A’udzu billahi minash-shaitanir-rajim.Bismillahir-rahmanir-rahim.
Saudaraku yang dirahmati Allah,
Mari sejenak kita menundukkan hati dan merefleksikan eksistensi kita di muka bumi ini melalui kacamata firman Allah dalam Surah Al-Insan ayat 1-3.
Allah Swt. berfirman:
“Bukankah pernah datang kepada manusia waktu dari masa, yang ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut? Sungguh, Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya (dengan perintah dan larangan), karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat. Sungguh, Kami telah menunjukkan kepadanya jalan yang lurus; ada yang bersyukur dan ada pula yang kufur.”
Melalui ayat-ayat yang indah sekaligus menggetarkan ini, Allah Swt. mengajak kita bertasabur mengenai tiga fase penting kehidupan manusia:
Pertama, Mengingat Keadaan “Tiada”. Ayat pertama mengingatkan ego manusia bahwa dahulu kala, kita bukanlah siapa-siapa, bahkan tidak disebut sama sekali dalam sejarah alam semesta. Kesadaran ini semestinya melahirkan ketawadhuan (kerendahan hati) yang mendalam, menghancurkan benih kesombongan, karena kita hanyalah makhluk fana yang dihidupkan oleh Sang Khalik.
Kedua, Tujuan Penciptaan dan Anugerah Alat Uji. Kita diciptakan dari setetes mani yang hina, lalu disempurnakan. Namun, penciptaan ini bukan tanpa tujuan. Allah menegaskan, “Kami hendak mengujinya.” Kehidupan adalah rangkaian ujian berupa perintah dan larangan. Untuk menghadapi ujian tersebut, Allah membekali kita dengan panca indra yang luar biasa: pendengaran dan penglihatan. Alat ini bukan sekadar untuk fungsi biologis, melainkan untuk menyerap ayat-ayat Allah, baik yang tertulis (Qur’aniyah) maupun yang terhampar di alam semesta (Kauniyah).
Ketiga, Jalan Hidayah dan Kebebasan Memilih. Allah tidak membiarkan manusia berjalan dalam kegelapan. Jalan yang lurus (al-haq) telah ditunjukkan dengan jelas. Namun, Allah memberikan manusia kebebasan kehendak. Di sinilah letak ujian sesungguhnya. Akhir dari ayat ini membagi manusia menjadi dua golongan: Shakiran (yang bersyukur) dan Kafuran (yang kufur/ingkar). Menjadi hamba yang bersyukur berarti menggunakan seluruh potensi yang Allah berikan—pendengaran, penglihatan, hati, dan raga—untuk taat kepada-Nya. Sebaliknya, kufur adalah mengingkari nikmat dan berpaling dari petunjuk-Nya.
Saudaraku,
Di hari Rabu yang penuh potensi ini, mari kita kencangkan ikat pinggang dan nyalakan semangat beraktivitas. Jadikan setiap peluh dan langkah kaki kita dalam urusan dunia sebagai wujud syukur kita kepada Allah. Pilihlah jalan syukur dengan menjadikan setiap aktivitas kita bernilai ibadah.
Melangitkan Doa di Pagi Hari
Sembari mengawali ikhtiar, marilah kita bersimpuh memohon kepada Allah Yang Maha Rahman:
Ya Allah, Tuhan Pemilik Semesta Alam,Kami bermunajat kepada-Mu di pagi yang berkah ini. Permohonan kami, jagalah kami agar selalu dalam keadaan Sehat wal afiat. Bagi saudara-saudara kami yang sedang diuji dengan sakit, angkatlah penyakitnya dan berikanlah kesembuhan yang cepat.
Ya Ghaffar, Tuhan Maha Pengampun,Mohon diampuni dosa kedua orangtua kita, sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangi kita sewaktu kecil. Ampuni pula dosa-dosa kami.
Ya Mujibas Sailin,Hiasilah hari kami dengan kebahagiaan dan kesuksesan yang hakiki. Mohon dimudahkan segala urusan Dunia kami agar menjadi wasilah menuju akhirat-Mu. Anugerahkanlah kepada kami tambahan Rezeki yang Barokah, luas, dan halal.
Dan yang terpenting, ya Rabb,Tanamkanlah di dalam hati kami kekuatan untuk selalu bersyukur atas limpahan nikmat-Mu dan kekuatan untuk selalu bersabar atas setiap ujian-Mu.
Aamiin Ya Rabbal’aalamiin.
Selamat beraktivitas, tetap istiqamah dalam kebaikan.
Ustadz Sudarmanto, Lc.











