HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Ustadz Adi Hidayat menyerukan taubat nasional di tengah banyak musibah dan bencana alam yang terjadi di Indonesia. Ia mengajak seluruh masyarakat introspeksi diri pada Selasa (8/9/2026)
Ustadz Adi Hidayat (UAH) menyampaikan seruan tersebut dalam ceramah yang diunggah di kanal YouTube Adi Hidayat Official.
Ia mengingatkan bahwa Allah Subhanahu wa Taala adalah Rabb al-Alamin, pengelola, penjaga, dan pemelihara alam semesta. Pemeliharaan itu berjalan berdasarkan aturan dan ketentuan tertentu.
UAH menjelaskan, manusia sering menimbulkan kerusakan di darat dan laut melalui perilaku yang menyimpang.
Ketika manusia melampaui batas, Allah memberikan tanda-tanda peringatan berupa ketidakstabilan lingkungan.
Mengutip Al-Qur’an surat Al-Isra ayat 59 yang menyatakan bahwa Allah tidak menahan diri untuk memberikan ayat-ayat yang menakutkan agar manusia sadar.
Menurut UAH, tanda-tanda tersebut sudah terlihat dalam beberapa hari terakhir. Debu vulkanik tersebar di sejumlah wilayah, asap mengepul, dan penerbangan terjadwal terpaksa dibatalkan.
Situasi ini menimbulkan ketakutan di masyarakat. Namun, UAH mempertanyakan berapa banyak orang yang kemudian melakukan evaluasi diri, muhasabah, dan introspeksi.
Ia mengutip ayat yang menyatakan bahwa Allah tidak akan mengazab suatu kaum selama mereka masih beristigfar.
UAH menekankan pentingnya menghidupkan kembali sisi spiritual di samping aspek intelektual dan fisik. Ia mengajak seluruh bangsa untuk bertaubat kepada Allah.
UAH mencontohkan kondisi musim kemarau panjang di beberapa daerah. Ia mengaitkan situasi itu dengan hubungan manusia dengan Sang Pemilik hujan.
Ia juga menyinggung aktivitas Gunung Anak Krakatau dan gunung-gunung lain. Menurutnya, istigfar yang banyak dapat menjadi salah satu jalan menuju kebaikan dan ketenangan.
UAH menutup ceramah dengan mengutip kisah Nabi Nuh yang mengajak kaumnya memperbanyak istigfar. Allah berjanji akan menurunkan hujan sebagai solusi atas kesulitan dan melipatgandakan rezeki.
Pemeriksaan fakta independen menunjukkan bahwa pada awal September 2026, sejumlah gunung api di Indonesia memang menunjukkan peningkatan aktivitas.
Gunung Anak Krakatau mengalami erupsi menerus sekitar 25 jam mulai 4 September 2026 yang menghasilkan abu vulkanik tersebar ke beberapa provinsi dan menyebabkan gangguan penerbangan.
Gunung Semeru, Ibu, Sinabung, dan beberapa gunung lain juga tercatat mengalami erupsi. Badan Geologi mencatat setidaknya 11 gunung api mengalami erupsi sepanjang 2026 hingga awal September.








