HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Krisis air bersih akibat kemarau panjang di Kota Tangerang Selatan semakin meluas hingga melanda 25 titik di Kecamatan Setu dan Serpong. (14/9/2026)
Kondisi ini dilaporkan telah berdampak pada sekitar 559 hingga 599 kepala keluarga, atau setara dengan 2.446 jiwa. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan mencatat wilayah terdampak paling banyak berada di Kecamatan Setu.
Sejak penyaluran pertama pada 8 Juli 2026, BPBD telah mendistribusikan total 943.950 liter air bersih ke permukiman warga. Rata-rata satu lokasi mendapat giliran pasokan dua hingga tiga kali seminggu.
“Setiap hari kami kirim armada ke 25 lokasi tersebut. Rata-rata satu lokasi mendapat giliran pasokan dua hingga tiga kali seminggu, dengan total penyaluran sekitar 40.000 liter per hari,” ujar Essa Nugraha (Sekretaris BPBD Tangsel) kepada ekbisbanten.com, Sabtu (12/09/2026).
Di Kecamatan Setu, terdapat 24 titik kekeringan yang tersebar di Kelurahan Keranggan sebanyak 16 titik, Kelurahan Kademangan tujuh titik, dan Kelurahan Muncul satu titik. Sementara itu, satu titik lainnya berada di Kelurahan Serpong.
Namun, dalam upaya penanganan ini, BPBD Tangsel menemui kendala keterbatasan armada pengirim air bersih. Komandan Peleton BPBD Tangsel, Dian Wiryawan, mengonfirmasi bahwa pihaknya hanya bisa mengoperasikan empat hingga enam unit truk tangki setiap harinya.
“Saat ini jumlah titik terdampak kekeringan semakin bertambah, karena BPBD Tangsel terkendala mobil truk tangki air dalam pendistribusian, hanya 4–6 truk per harinya,” ujar Dian Wiryawan (Komandan Peleton BPBD Tangsel) kepada aktualtangerang.com, Senin (14/09/2026).
“Untuk saat ini kami memprediksi sampai akhir Oktober,” kata Dian Wiryawan (Komandan Peleton BPBD Tangsel) terkait perkiraan durasi bencana kekeringan tersebut.
“Masyarakat kami imbau untuk menghemat air. Prioritaskan penggunaan air tangki untuk konsumsi dasar seperti memasak serta kebutuhan MCK,” pungkas Essa Nugraha (Sekretaris BPBD Tangsel) dalam keterangannya.








