Jumat, 16 Oktober 2026
Hot

UIN Jakarta dan DMI Tangsel Perkuat Kolaborasi Berbasis Masjid untuk Eliminasi TB

Tim GeoTB Tangsel bersama DMI Kota Tangerang Selatan menggelar FGD untuk mempercepat eliminasi tuberkulosis berbasis kekuatan masjid dan komunitas.

Article ad before first paragraph

Achmad Fauzan Penulis | Ridwan Habibie Editor

HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Tim GeoTB Tangsel bersama Dewan Masjid Indonesia (DMI) Kota Tangerang Selatan memperkuat kolaborasi berbasis masjid untuk mendukung percepatan eliminasi tuberkulosis (TB) melalui Focus Group Discussion (FGD), Jumat (16/10/2026).

Kegiatan yang berlangsung pukul 09.00–11.00 WIB di Private Room Resto Soto Bu Tjondro, Pondok Cabe, Tangerang Selatan, mempertemukan tim peneliti GeoTB Tangsel dengan pengurus DMI Kota Tangerang Selatan. FGD ini secara khusus mengeksplorasi potensi peran dan dukungan kelembagaan DMI dalam program penanggulangan TB melalui pendekatan berbasis nilai keagamaan, kekuatan komunitas, dan kolaborasi lintas sektor.

Kegiatan tersebut menjadi bagian dari pengembangan riset “GeoTB Tangsel: Implementasi Spatial Analysis, Maqāṣid al-Sharī‘ah, dan Faith-Based Theory untuk Eliminasi Tuberkulosis di Kota Tangerang Selatan.” Riset ini sebelumnya telah diperkenalkan melalui penjajakan kolaborasi antara Program Studi Kesehatan Masyarakat Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta dan DMI Kota Tangerang Selatan pada 5 Oktober 2026.

Article ad in the middle of article

Menghubungkan Data, Masjid, dan Masyarakat

Konsep GeoTB Tangsel dibangun dari gagasan bahwa penanggulangan TB membutuhkan lebih dari sekadar pendekatan medis. Data epidemiologi perlu diterjemahkan menjadi informasi mengenai wilayah prioritas, sementara kekuatan sosial masyarakat dapat dimanfaatkan untuk mendukung edukasi, pencegahan, pengurangan stigma, serta penguatan kepedulian terhadap kesehatan.

Dalam kerangka penelitian tersebut, analisis spasial digunakan untuk membaca distribusi kasus TB dan mengaitkannya dengan sejumlah karakteristik wilayah, seperti kepadatan penduduk, kondisi sosial ekonomi, karakteristik lingkungan dan rumah, akses terhadap fasilitas pelayanan kesehatan, serta keberadaan masjid.

Masjid dalam penelitian ini tidak diposisikan sebagai faktor risiko TB. Sebaliknya, masjid dipandang sebagai aset komunitas yang memiliki potensi untuk menjadi ruang komunikasi dan penguatan dukungan sosial bagi masyarakat.

Pendekatan tersebut menjadi salah satu alasan keterlibatan DMI dinilai penting. Dengan jejaring kelembagaan yang terhubung dengan masjid dan Dewan Kemakmuran Masjid (DKM), DMI memiliki posisi strategis untuk mempertemukan pendekatan akademik dengan realitas kehidupan masyarakat di tingkat komunitas.

Pemberitaan Harian Express sebelumnya mencatat bahwa kebutuhan terhadap data masjid dan DKM dalam penelitian GeoTB tidak hanya dimaksudkan untuk memetakan lokasi rumah ibadah, tetapi juga untuk mengidentifikasi potensi masjid yang dapat menjadi bagian dari penguatan intervensi kesehatan masyarakat.

Pendekatan Kesehatan yang Berbasis Nilai

FGD juga mengangkat pendekatan Maqāṣid al-Sharī‘ah dan Faith-Based Program Theory sebagai bagian dari kerangka pemikiran GeoTB Tangsel.

Pendekatan Maqāṣid al-Sharī‘ah memberikan perspektif bahwa perlindungan dan pemeliharaan kehidupan merupakan bagian penting dari kemaslahatan masyarakat. Dalam konteks TB, nilai tersebut dapat diterjemahkan ke dalam kepedulian terhadap kesehatan diri, keluarga, jamaah, dan lingkungan sosial.

Sementara itu, pendekatan berbasis agama atau faith-based approach membuka ruang untuk memahami bagaimana nilai, keyakinan, kepemimpinan keagamaan, serta jejaring sosial dapat berkontribusi terhadap perubahan perilaku kesehatan.

Karena itu, diskusi tidak diarahkan untuk menjadikan masjid sebagai pengganti fasilitas kesehatan. Peran masjid justru ditempatkan sebagai bagian dari ekosistem dukungan masyarakat yang dapat berjalan berdampingan dengan sistem pelayanan kesehatan formal.

Beberapa topik yang menjadi perhatian dalam diskusi meliputi program dan kegiatan DMI yang relevan dengan penanggulangan TB, nilai dan keyakinan keagamaan yang dapat mendukung perilaku hidup sehat, mekanisme perubahan yang mungkin terjadi melalui keterlibatan komunitas, serta konteks kelembagaan yang perlu diperhatikan dalam pengembangan program.

Urgensi Kolaborasi di Tengah Beban TB Indonesia

Penguatan pendekatan kolaboratif menjadi semakin relevan karena Indonesia masih menghadapi beban TB yang tinggi. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mencatat Indonesia sebagai salah satu negara dengan beban TB terbesar di dunia. Dalam tinjauan yang diterbitkan pada 2025, WHO menyebut sedikitnya satu dari empat orang dengan TB secara keseluruhan masih belum terlaporkan atau belum terdiagnosis, dengan lebih dari 140.000 kasus diperkirakan belum terdiagnosis pada 2023. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan penemuan kasus, pelaporan, dan keterhubungan masyarakat dengan layanan kesehatan.

WHO juga melaporkan bahwa pada 2025 diperkirakan lebih dari satu juta orang di Indonesia didiagnosis TB, dengan sekitar 134.000 kematian setiap tahun. Penguatan strategi berbasis bukti dan kemitraan lintas sektor kemudian menjadi salah satu agenda penting dalam upaya Indonesia mempercepat eliminasi TB.

Dalam konteks Tangerang Selatan sebagai kawasan urban dengan mobilitas penduduk yang tinggi, pemanfaatan data spasial dapat membantu memberikan gambaran yang lebih presisi mengenai wilayah yang perlu mendapatkan perhatian. Di sisi lain, pendekatan berbasis komunitas dapat membantu memastikan bahwa strategi kesehatan tidak berhenti pada pemetaan wilayah, tetapi dapat diterjemahkan menjadi dukungan yang lebih dekat dengan masyarakat.

Menuju “Masjid Prioritas Peluang”

Salah satu gagasan penting dalam GeoTB Tangsel adalah identifikasi “masjid prioritas peluang” dan “kelurahan prioritas”. Istilah tersebut menekankan bahwa pemilihan masjid tidak semata-mata didasarkan pada kedekatannya dengan wilayah kasus TB, tetapi juga mempertimbangkan kesiapan dan kapasitas kelembagaan untuk mendukung kegiatan kesehatan masyarakat.

Analisis spasial dalam penelitian dirancang untuk melihat pola persebaran kasus, termasuk melalui Global Moran’s I, Local Moran’s I atau LISA, Kernel Density Estimation, Average Nearest Neighbor, dan Getis-Ord Gi. Analisis kedekatan juga dapat digunakan untuk melihat hubungan geografis antara kasus TB, fasilitas kesehatan, dan masjid.

Hasil analisis tersebut nantinya dapat diperkaya dengan informasi kualitatif melalui keterlibatan pengurus DKM. Aspek seperti pemahaman mengenai TB, kesediaan berpartisipasi, bentuk dukungan yang memungkinkan, serta faktor yang dapat mendorong atau menghambat keterlibatan masjid menjadi bagian penting dalam membangun rekomendasi yang realistis.

Pendekatan ini membuat rekomendasi tidak hanya berbasis peta, tetapi juga mempertimbangkan kondisi sosial dan kelembagaan masyarakat.

Dari FGD Menuju Aksi Kolaboratif

FGD DMI Kota Tangerang Selatan menjadi ruang penting untuk mempertemukan perspektif akademik dengan pengalaman kelembagaan di tingkat masyarakat. Diskusi tersebut diharapkan menjadi pijakan untuk mengembangkan bentuk kolaborasi yang sesuai dengan kapasitas DMI, masjid, DKM, tenaga kesehatan, dan pemangku kepentingan lainnya.

Ke depan, pengembangan GeoTB Tangsel diarahkan pada penyusunan peta wilayah prioritas TB, identifikasi masjid yang memiliki peluang untuk mendukung agenda kesehatan masyarakat, rekomendasi kebijakan dalam bentuk policy brief, serta pengembangan manuskrip ilmiah.

Lebih dari sekadar penelitian mengenai persebaran penyakit, GeoTB Tangsel membawa gagasan untuk menghubungkan data, masjid, dan masyarakat dalam satu kerangka penanggulangan TB. Data digunakan untuk memahami persoalan secara lebih presisi, sementara kekuatan komunitas dimanfaatkan untuk membangun dukungan sosial yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.

Semangat tersebut dirangkum dalam pesan kegiatan, “Masjid sehat, masyarakat kuat, Tangsel bebas TB.” Dengan kolaborasi yang berkelanjutan antara dunia akademik, DMI, pemerintah, fasilitas kesehatan, dan masyarakat, masjid diharapkan dapat mengambil bagian sebagai pusat edukasi, kepedulian, dan penguatan perilaku hidup sehat dalam perjalanan Tangerang Selatan menuju eliminasi tuberkulosis.

Article ad after last paragraph