Adi Setyadi Penulis | Ridwan Habibie Editor
HARIANEXPRESS, TANGERANG SELATAN – Tanggal 5 Oktober bukan sekadar penanda kalender atau seremoni tahunan bagi bangsa Indonesia. Di peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang jatuh pada hari ini, sebuah refleksi mendalam justru lahir dari mimbar keagamaan.
Melalui pesan bertajuk “Hikmah Pagi Dakwah”, Ittihad Persaudaraan Imam Masjid (IPIM) Tangerang Selatan bersama Komisi Dakwah merangkai sebuah benang merah yang indah antara tugas suci seorang imam masjid dan patriotisme prajurit TNI. Sebuah narasi yang mengingatkan bangsa ini bahwa pertahanan terkuat lahir dari perpaduan antara doa dan usaha, antara spiritualitas dan ketegasan sikap.
Mengusung tema “Imam Masjid: Panutan dalam Pengabdian Menurut Hikmah Al-Hikam”, pesan tersebut menggugah kesadaran publik bahwa esensi kepemimpinan baik di ranah spiritual maupun pertahanan negara bermuara pada satu nilai fundamental: pengabdian yang tulus.
Seorang imam berdiri di barisan terdepan bukan untuk mencari penghormatan publik, melainkan semata-mata untuk mengemban amanah dan melayani umat. Semangat ini dinilai sangat selaras dengan napas perjuangan seorang prajurit militer. Kedisiplinan, keberanian, kesetiaan, dan kesiapan untuk senantiasa mengabdi menjadi karakter yang tak terpisahkan dari denyut nadi TNI.
Merujuk pada mahakarya Kitab Al-Hikam susunan ulama besar Ibnu Athaillah As-Sakandari, ditekankan bahwa kemuliaan seseorang tidak pernah terletak pada seberapa tinggi kedudukan atau jabatannya, melainkan bermuara pada keikhlasan dalam menjalankan amanah.
“Barang siapa mengenal Allah dengan hati, maka semua ibadahnya akan terasa indah,” demikian kutipan agung Ibnu Athaillah.
Terdapat pembagian tugas yang sangat harmoni dalam menjaga entitas bangsa ini. Jika seorang imam bertugas menjaga ketenangan dan kedamaian dari dalam mihrab, maka prajurit TNI berdiri membusungkan dada, menjaga keamanan dan kedaulatan negeri di garis perbatasan. Keduanya, meski berada di palagan yang berbeda, sejatinya mengajarkan satu nilai luhur yang sama kepada ibu pertiwi: pengabdian yang tulus.
“Keikhlasan seorang imam adalah kekuatan yang membuatnya terus berdiri meski tidak terlihat oleh manusia, tetapi selalu terlihat oleh Allah.”
Untaian hikmah penutup dari Ibnu Athaillah tersebut menjadi pengingat yang amat relevan bagi seluruh abdi negara. Khususnya bagi prajurit TNI yang kerap kali bekerja dalam senyap mengarungi lautan lepas, menembus belantara hutan, hingga menjaga ruang udara Nusantara tanpa mengharap sorot kamera, demi memastikan rakyat tertidur dengan aman.
Di usianya yang menginjak 81 tahun, untaian doa dan harapan terbaik mengalir untuk institusi penjaga kedaulatan ini. Dirgahayu ke-81 Tentara Nasional Indonesia. Semoga TNI senantiasa menjelma menjadi penjaga kedaulatan dan pengayom sejati bagi rakyat.
Dan semoga Sang Pencipta senantiasa menjaga para imam, prajurit, dan seluruh anak bangsa yang ikhlas mengabdi untuk umat dan negeri, menuju masyarakat yang lebih baik dan senantiasa berada dalam ridha-Nya.











